Natal, Kapan Yesus Lahir dari POV Sains?

Natal, Kapan Yesus Lahir dari POV Sains?

Mayoritas umat Kristen di tempat dunia akan merayakan Natal pada 25 Desember mendatang. Natal dirayakan sebagai peringatan tegas hari lahir Yesus, meskipun sebagian besar ilmuwan setuju itu bukanlah fakta sebenarnya.

Tanggal 25 Desember dirayakan sebagai Natal, demikian menurut ensiklopedia Britannica, sejak 336 Masehi. Sextus Julius Africanus, sejarahwan Kristen yang digunakan hidup di tempat sekitar 180 M – 250 disebut sebagai orang pertama yang tersebut mengeklaim Yesus lahir pada 25 Desember.

Alkitab sendiri tak pernah menyampaikan kapan Yesus lahir secara detil. Meski sebagian besar umat Kristen merayakan Natal pada 25 Desember, gereja Ortodoks Mesir lalu Yunani, juga Gereja Koptik Mesir merayakan ulang tahun Yesus pada 6 atau 7 Januari.

Anggota Orang Muda Katolik (OMK) merangkai pohon natal dari masker di dalam Geraja Centrum Stela Maris Danga, Kota Nagekeo, NTT, Kamis (23/12/2021).  ANTARA FOTO/Ignas Kunda
Anggota Orang Muda Katolik (OMK) merangkai pohon natal dari masker di dalam Geraja Centrum Stela Maris Danga, Daerah Nagekeo, NTT, Kamis (23/12/2021). ANTARA FOTO/Ignas Kunda

Sejarah 

Para ahli sejarah sendiri tak ada yang mana benar-benar bisa jadi memverifikasi kapan Yesus lahir. Mereka cuma dapat memperkirakan periode waktu Tuhan orang Kristen itu lahir.

Ada kelompok ilmuwan yang mana menggunakan masa pemerintahan Herodes Agung, raja bangsa Yahudi yang memerintah tempat Palestina dari 72 hingga 4 Sebelum Masehi (SM).

Dalam cerita Alkitab, Herodes Agung disebut mencoba membunuh Yesus yang digunakan masih bayi dengan memerintahkan militernya menumpas anak-anak berusia 2 tahun ke bawah di area Betlehem kemudian sekitarnya. Kejadian ini berlangsung persis sebelum sang raja meninggal dunia.

Masalahnya waktu meninggalnya Herodes Agung juga masih diperdebatkan.

Beberapa ilmuwan mengungkapkan Herodes wafat pada 4 Masehi. Grup ini termasuk Peter Richardson kemudian Amy Marie Fisher, yang tersebut menerbitkan buku bertajuk Herod: King of the Jews and Friend of the Romans: Second Edition (Routledge) pada 2018 lalu.

Sementara Flavius Josephus, sejarahwan Romawi Kuno yang tersebut juga berdarah Yahudi, mencatat, Herodes Agung wafat pada 1 SM.

Karenanya merek memperkirakan Yesus lahir antara tahun 6 SM sampai 4 SM (penting diingat, tahun Sebelum Masehi dihitung mundur dari bilangan yang paling besar ke yang tersebut kecil).

Selain sengkarut perihal waktu wafatnya Herodes, para sejarahwan kemudian sarjana juga meragukan cerita persoalan pembantaian bayi oleh sang raja. Ada yang digunakan bilang cerita itu fiksi belaka.

Reza Aslan, salah satu sarjana keagamaan terkemuka jika Amerika Serikat, pada bukunya yang kontroversial berjudul Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth (Random House, 2013) menyatakan bukan ada satu pun bukti sejarah, baik dari catatan Yahudi, Romawi Kuno juga bahkan Kristen sendiri yang digunakan mengupayakan atau menguatkan kisah pembantaian bayi tersebut.

Bintang berekor

Ilmuwan lain berjuang memecahkan teka-teki kelahiran Yesus dengan pendekatan astronomi. Dalam Alkitab diceritakan bahwa pada waktu Yesus lahir ada “bintang berekor” di dalam langit.

Misalnya pada 1991, sebuah artikel dalam Quarterly Journal of the Royal Astronomical Society yang tersebut ditulis astronom Inggris Colin Humphreys, menyebutkan bahwa bintang berekor pada kisah kelahiran Yesus adalah sebuah komet.

Cerita tentang komet itu juga ditemukan di catatan astronom China – yang digunakan selama berabad-abad secara teratur mencatatkan setiap fenomena unik di dalam langit – dari tahun 5 SM.

Tetapi para astronom berunjuk rasa teori Humphreys itu lalu menyatakan bahwa komet yang dimaksud dilihat astronom China pada 5 SM tiada seterang seperti yang dikisahkan di Alkitab.

Para astronom China mencatatkan data adanya bintang berekor yang sangat terang pada 12 SM, tetapi itu adalah Komet Halley yang dimaksud menghampir Bumi setiap 76 tahun. Dan 12 SM tidaklah pas dengan catatan sejarah di tempat sekitar kelahiran Yesus di tempat Timur Tengah.

Teori lain perihal “bintang berekor” berkaitan dengan konjungasi Venus kemudian Yupiter. Ketika dua planet ini berada pada garis lurus pada waktu dilihat dari Bumi, memang sebenarnya terlihat mirip bintang yang tambahan terang. Fenomena ini pernah terjadi pada 2 SM silam.

Warga berpakaian "Santa Claus" membagikan bingkisan Natal di dalam Lingkungan Jadimulya, Perkotaan Banjar, Jawa Barat, Hari Sabtu (25/12/2021). [ANTARA FOTO/Adeng Bustomi]
Warga berpakaian “Santa Claus” membagikan bingkisan Natal dalam Lingkungan Jatimulya, Perkotaan Banjar, Jawa Barat, Hari Sabtu (25/12/2021). [ANTARA FOTO/Adeng Bustomi]

Tradisi Pagan

Para sejarahwan banyak yang digunakan percaya bahwa 25 Agustus dipilih Gereja Katolik Roma sebagai hari Natal dikarenakan meneruskan tradisi Pagan yang dimaksud merayakan Winter Solstice atau titik balik Matahari di dalam belahan Bumi utara pada sekitar akhir Desember.

Seperti diulas Ignacio L Gotz pada bukunya Jesus The Jew: Reality, Politics and Myth – a Personal Encounter (Christian Faith Publishing, 2019), Natal diduga bermula dari festival Pagan Eropa yang mana merayakan titik balik Matahari pada musim dingin.

Pada masa Romawi Kuno, perayaan Winter Solstice ini diselenggarakan untuk menghormati Saturnus, Dewa Pertanian. Menurut History Channel, Saturnalia merupakan salah satu festival paling meriah pada kebudayaan Romawi Kuno. Diduga perayaan inilah yang kemudian diambil alih oleh Peradaban Kristen. [Live Science/History Channel]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *